Makkiyah dan Madaniyah: Bukan Cuma Persoalan Tempat

Selama ini, kalau kita belajar sejarah Islam di sekolah, kita sering mengotakkan Makkiyah dan Madaniyah cuma sebatas tempat: Makkiyah itu ayat yang turun di Mekah, Madaniyah di Madinah. Dalam hal ini para ulama sepakat kalau periodesasi ini sebenarnya adalah soal kondisi, situasi, dan fase perjuangan.

  • Periode Makkiyah (Fase Malam/Gelap): Ini adalah masa di mana Rasulullah saw. dan para sahabat hidup di bawah dominasi sistem hukum Jahiliyah. Fokusnya? Bukan nerapin hukum, melainkan building character, kuatin mental, dan menanamkan aqidah (iman).
  • Periode Madaniyah (Fase Siang/Terang): Ini adalah fase setelah Hijrah (eksodus besar-besaran). Begitu Rasulullah punya wilayah mandiri di Yatsrib (Madinah) dan terbebas dari hukum bangsa-bangsa, beliau punya status quo atau otoritas teritorial sendiri. Di fase inilah aturan hukum (syariat) seperti shalat, zakat, puasa, haji, perang, qishash, hukum perzinahan, potong tangan buat koruptor, nikah, sampai larangan riba baru diturunkan.

Kenapa diatur begitu? Karena Allah itu Maha Bijaksana. Enggak mungkin Allah langsung memaksakan aturan hukum-Nya di saat umat-Nya masih terikat dan terjajah oleh sistem hukum bangsa-bangsa kafir musyrik (thaghut). Hukum Allah itu selalu bertolak belakang dengan hukum buatan manusia, seperti yang ditegaskan dalam QS. Al-Maidah (5) ayat 50:

"Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?"

Artinya, penerapan hukum itu wajib punya modal teritorial/wilayah (daar). Tanpa wilayah mandiri, ayat-ayat hukum Madaniyah belum bisa dieksekusi.

Al-Quran itu "Manual Book" yang Sistematis, Bukan Sekali Drop

Sering ada pertanyaan dari orang kafir zaman dulu: "Kenapa Al-Quran gak diturunin sekaligus aja dalam satu buku?" Jawabannya ada di QS. Al-Furqaan (25) ayat 32-33.

Al-Quran diturunkan bertahap, teratur, dan benar (tartil) justru untuk menguatkan hati Rasulullah dalam menghadapi setiap ganjalan dan argumen kaum kafir. Al-Quran itu adalah pedoman taktis untuk menegakkan kembali Din al-Islam (Khilafah Allah) secara sistematis, selangkah demi selangkah, mengikuti ritme perjuangan nyata.

Suburnya Gerakan Terorisme & Radikalisme karena Gagal Paham Zaman 

Di sinilah benang merah teks asli yang sangat krusial. Banyak ulama dan umat Islam zaman sekarang mengalami kesalahan fatal dalam membaca zaman.

Tesis yang Salah: "Islam Sekarang Masih Sempurna & Fase Madaniyah"

Mayoritas ahli Al-Quran menganggap kondisi dunia sekarang ini adalah fase Madaniyah yang akan bertahan selamanya. Mereka bersandar pada QS. Al-Maidah (5) ayat 3 ("Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu dinmu..."). Padahal, ayat itu turun pas Haji Wada' tahun 10 H, di mana Islam secara de facto punya militer kuat (144.000 pasukan) yang ditakuti Romawi dan Persia, serta punya negara yang berdaulat.

Fakta sejarahnya: Eksistensi Khilafah Islam sebagai pelaksana hukum Allah sudah runtuh sejak Jengis Khan membantai Khilafah Abbasiyah pada tahun 1258 M. Dinasti setelahnya seperti Fatimiyah di Mesir atau Utsmaniyah (Turki) sampai tahun 1924 M hanyalah kerajaan lokal/kebangsaan, bukan khilafah global (fil ardh). Bahkan, Kesultanan Turki Utsmaniyah adalah hasil kongkalikong antara Mongol dan Turki yang menyusup ke lingkaran Khalifah Al-Musta'shim Billah. Jelas, sekarang khilafah itu tidak ada.

Dampak Salah Baca Zaman: Suburnya Radikalisme dan Terorisme

Karena menganggap hari ini masih fase Madaniyah, para ulama mewajibkan seluruh ayat hukum (termasuk ayat perang) tetap berlaku. Ironisnya, ketika ada kelompok ekstremis kayak ISIS melakukan teror, ngebom, atau perang atas nama agama, mereka sebenarnya memakai pola pikir yang sama dengan para ulama tersebut, yaitu: berkeyakinan kalau ayat Madaniyah (ayat perang) wajib dijalankan sekarang.

Poin Penting: Kelompok radikal bertumpu pada ayat seperti QS. Al-Baqarah (2) ayat 216 tentang kewajiban perang. Kalau ulama menganggap ayat Madaniyah masih berlaku, kenapa mereka gak ikut perang? Kenapa yang perang dibilang teroris? Justru kesalahan membaca kondisi zaman inilah yang menyuburkan radikalisme!


Analogi Pohon: Jangan Sibuk Ngurusin Batang Kalau Akarnya Rusak 

Untuk menyembuhkan dunia Islam dari radikalisme dan keterpurukan, kita harus balik ke pola pikir wahyu: Mulai lagi dari fase awal Makkiyah (pembinaan aqidah/iman), bukan pemaksaan syariat.

Perhatikan perumpamaan dari QS. Ibrahim (14) ayat 24-26:

Kalau tanaman sakit dan gak berbuah, yang salah bukan batangnya, tapi akarnya yang rusak! Keterpurukan dunia Islam hari ini adalah masalah aqidah, bukan syariat.

Memaksakan hukum Madaniyah (syariat/politik) di era Makkiyah (saat umat belum punya wadah negara dan iman masih lemah) adalah perbuatan tergesa-gesa. Dan tergesa-gesa itu adalah sifat setan yang didorong oleh nafsu politik kekuasaan. Sesuai QS. Thahaa (20) ayat 114, kita dilarang tergesa-gesa sebelum wahyu itu disempurnakan pemahamannya.

Spill the Facts: Indonesia & Dunia Hari Ini Lagi Kena "Kutuk"

Setiap Rasul dari zaman Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, sampai Muhammad saw. membawa visi dan program kerja yang sama. Mereka dipandu Allah melewati siklus dari kegelapan menuju cahaya terang (QS. Al-Baqarah: 257).

Dalam Kitab Perjanjian Lama (Ulangan 28: 1-48), Allah memberikan indikator yang super jelas dan valid untuk membaca potret sebuah bangsa, apakah mereka sedang dalam kondisi Berkat (Beriman) atau Kutuk (Musyrik/Jahiliyah):

Indikator Bangsa yang Dapat BERKAT (Ulangan 28: 1-14)

  • Diangkat di atas segala bangsa di bumi (jadi pemimpin/kepala, bukan ekor).
  • Ekonomi makmur, lumbung pangan melimpah, sukses di kota maupun di ladang.
  • Musuh yang menyerang lewat satu jalan akan kocar-kacir melarikan diri lewat tujuh jalan.
  • Bisa memberikan pinjaman (utang) kepada banyak bangsa, tapi diri sendiri tidak pernah meminjam.

Indikator Bangsa yang Dapat KUTUK (Ulangan 28: 15-48)

  • Mengalami krisis multidimensi, huru-hara, kekeringan, hama, dan penyakit mewabah.
  • Langit di atas kepala jadi tembaga, tanah di bawah jadi besi (alam rusak/krisis ekologi).
  • Kalah telak oleh musuh dan jadi bahan kengerian bagi kerajaan di bumi.
  • Anak-anaknya dirampas atau dipengaruhi bangsa lain tanpa bisa berbuat apa-apa.
  • Orang asing di tengah-tengahnya makin tinggi mengatasi mereka, sedangkan bangsa itu sendiri makin rendah. Orang asing yang memberi pinjaman, dan mereka yang jadi ekor yang berutang.

Sekarang mari kita Iqra' (baca) realitas dunia hari ini, termasuk Indonesia, dengan jujur. Perang saudara sesama negara Muslim (Saudi vs Yaman, Irak vs Iran, faksi di Suriah), kegagalan Arab Spring yang berdarah-darah karena demo massal tanpa kesamaan ide (fikrah) dan metode (thariqah) sesuai sunnah, korupsi, narkoba massal, hingga sengketa Laut Cina Selatan yang melibatkan Indonesia dan berpotensi memicu Perang Dunia III karena ego ideologi (Kapitalisme vs Komunisme).

Jelas sekali, dunia hari ini sedang berada di bawah Kutuk Allah karena kita kembali hidup dalam sistem Jahiliyah modern dan berhakim pada thaghut (QS. An-Nisa: 60).

Kesimpulan & Konsekuensi Mencontoh Rasul

Berdasarkan seluruh data di atas, generasi Millah Abraham (pola perjuangan para Rasul) sadar betul bahwa dunia hari ini dalam kondisi Makkiyah. Oleh karena itu, strategi utamanya berfokus pada pembinaan iman, bukan melakukan tindakan teror, kekerasan, atau makar politik terhadap penguasa yang sah.

Apalagi, setiap kekuasaan bangsa di dunia ini sudah punya ajal atau expired date-nya masing-masing yang gak bisa dimajukan atau dimundurkan sedetik pun (QS. Al-A'raaf: 34).

Gerakan mengembalikan sistem hidup ke jalan kebenaran sejati (fitrah) ini pasti akan menghadapi Sunnatullah atau tradisi yang selalu berulang: dihina, difitnah, diboikot, bahkan diusir oleh bangsanya sendiri karena dianggap aliran sesat. Tapi tenang, QS. Ibrahim (14) ayat 13-14 sudah memberikan bocoran akhir ceritanya:

Orang-orang kafir boleh saja mengancam mengusir para Rasul dan pengikutnya. Tapi Allah wahyukan: "Kami pasti akan membinasakan orang-orang yang zalim itu, dan Kami pasti akan menempatkan kamu di negeri-negeri itu sesudah mereka."

Kemenangan akhir akan selalu berpihak pada mereka yang mampu membaca zaman dengan kacamata wahyu, memulai perjuangan dari akar yang benar, dan sabar mengikuti tahapan yang telah digariskan oleh Tuhan Semesta Alam.


Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama