Dari kecil pas di TPA (pengajian) atau denger ceramah di YouTube, kita sering banget dikasih tahu satu doktrin ini: "Manusia itu udah kenal Allah dan bersaksi sejak masih jadi janin di perut ibu."
Katanya, ada dialog antara Tuhan dan calon bayi yang merujuk ke QS. Al-A'raf ayat 172, Allah bertanya, "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Terus si janin jawab, "Betul, kami bersaksi." Ayat inilah yang digunakan untuk menjustifikasi kalau dari lahir kita semua udah punya "fitrah" beriman, dan sudah otomatis ber-syahadat kepada Allah.
Jadi, manusia sudah mengenal Allah dan sudah menyadari keesaan-nya sejak dalam kandungan. Demikianlah doktrin spiritual yang dipahami oleh mayoritas ummat Islam di dunia secara turun temurun.
Gue sempat stuck sama pemikiran ini puluhan tahun. Sampai akhirnya, gue mutusin buat dekonstruksi pikiran atau mempertanyakan ulang lewat logika sederhana:
Gimana bisa janin yang organ tubuhnya aja belum kelar, bisa ikutan dialog teologis sedalam itu? Si janin denger suara aja musti lewat bantuan pendengaran ibunya, kok ibunya nggak tahu ada obrolan itu? Bukannya tahu sesuatu itu butuh proses belajar, bukan tiba-tiba langsung pinter?
Yuk, kita bedah bareng-bareng pake sudut pandang yang lebih make sense dan ilmiah.
Dua Prinsip Dasar Dalam Memahami Al-Qur'an
Sebelum kita melangkah lebih jauh, kita harus sepakati dulu sama dua aturan dalam memahami Al-Quran ini:
- Ayat Al-Qur'an Nggak Mungkin Saling Bertentangan: Allah itu Maha Tahu. Mustahil Dia nurunin ayat yang saling tabrakan. Al-Qur'an itu kayak masterpiece scenario dari Sutradara Semesta—tiap ayat itu episode yang saling nyambung dan menguatkan. Kalau ada yang keliatan beda, itu karena diturunin bertahap sesuai kondisi sosial zaman. Agar orang-orang beriman bisa memahami setiap ayat yang diwahyukan dan melaksanakannya dengan benar. Ayat-ayat yang terkesan bertentangan, sesungguhnya justru ayat-ayat yang saling menguatkan.Jadi, kalau ada pemahaman yang kontradiktif, yang salah bukan ayatnya, tapi cara manusia mentafsirkannya.
- Iman Itu Logis, Bukan Cuma Berdasar Perasaan: Allah itu paling seneng sama orang yang hobi mikir, dan marah sama manusia yang males pake otaknya. Di QS. Yunus: 99-100, jelas banget dibilang kalau iman itu nggak bisa dipaksain apalagi diwarisin. Syarat dapet hidayah? Pake akal lo!
Bedah Kasus: Siapa Sih Sebenarnya "Bani Adam"?
Mari kita zoom in lagi ke QS. Al-A'raf: 172-173. Biar nggak salah paham, kita butuh keyword yang jelas.
Selama ini kita mikir "Bani Adam" itu artinya seluruh umat manusia secara biologis (karena Nabi Adam manusia pertama). Tapi kalau lo cek ayat-ayat sebelumnya (ayat 26, 27, 31), konteksnya lagi ngebahas pertarungan ideologi antara pengikut Nabi Adam vs Bani Iblis.
- Plot Twist-nya: "Bani Adam" di sini lebih tepat dimaknai sebagai generasi spiritual/ideologis yang megang teguh prinsip tauhid Nabi Adam, BUKAN semata keturunan biologisnya.
- Waktu ayat ini turun, Allah lagi ngomong ke Nabi Muhammad dan orang-orang beriman saat itu, untuk memperingati mereka akan trik dan tipudaya setan—bukan lagi ngomong ke seluruh populasi bumi lewat rahim.
Apa Mungkin Janin Bersaksi? Nggak Masuk Akal!
Sekarang kita bahas kata "Saksi".
Di dunia nyata, syarat jadi saksi itu apa sih? Harus berakal, dewasa, dan melihat/mendengar langsung kejadiannya, kan? Masa iya Allah ngambil kesaksian dari janin yang belum tahu apa-apa?
Logikanya, dialog spiritual imajiner di ayat 172 itu terjadi antara Allah dengan manusia dewasa (Bani Adam secara spiritual) yang udah maksimalin pendengaran, penglihatan, dan otaknya buat ngelihat tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta (ayat kauniyah) dan kitab suci (ayat qauliyah).
Lagian, di ayat 173 dijelasin tujuan kesaksian itu: Biar di hari kiamat lo nggak ngeles, "Ya Allah, dulu orang tua saya musyrik, saya kan cuma ikut-ikutan." Pikir deh: Janin mana yang bisa tahu kalau bapak-ibunya musyrik? Ibu kandungnya aja dia belum kenal. Jadi, fix ayat ini buat manusia yang udah hidup di dunia, bukan buat yang masih di dalem perut.
Manusia Lahir Dalam Kondisi Tidak Tahu Apa-Apa
Kalau masih ragu, coba cek QS. An-Nahl: 78:
"Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan akal pikiran, agar kamu bersyukur."
Tuh, clear banget! Kita lahir itu kayak kertas putih, zero knowledge. Kita baru mulai belajar lewat sensor pendengaran, penglihatan, dan akal seiring kita tumbuh. Jadi, narasi kalau kita udah beriman sejak janin itu langsung patah sama ayat ini. Kalau dari janin udah beriman, kok pas gede ada yang jadi ateis? Masa dia amnesia sama janji di rahim dulu? Nggak logis, kan.
Nabi Muhammad SAW juga pernah sabda: "Tiap bayi lahir dalam keadaan fitrah (potensi). Orang tuanyalah yang bikin dia jadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi." (HR. Bukhari). Artinya, lingkungan dan proses belajarlah yang ngebentuk spiritual awareness seseorang.
Dia Mendapatimu Dalam Keadaan Bingung dan Tidak Tahu Iman
Mau bukti yang lebih mind-blowing? Mari kita lihat track record Nabi Muhammad SAW sendiri lewat Al-Qur'an:
- QS. Adh-Dhuha: 7: "Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk." (Sekitar 40 tahun sebelum dapet wahyu, Nabi juga sempat ada di fase pencarian akan kebenaran).
- QS. Asy-Syura: 52: "Sebelumnya kamu (Muhammad) tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (Al-Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu..."
Selevel Rasulullah aja baru paham hakikat iman setelah dapet dan mempelajari wahyu di usia 40 tahun, BUKAN sejak di dalam kandungan. Kalau Rasul aja butuh proses belajar, masa kita remah-remah rengginang ini ngerasa udah beriman jalur shortcut rahim?
Jadi, "Sejak Kapan Lo Beriman?"
Secara historis, Abu Bakar dan para sahabat dibilang beriman setelah mereka sadar penuh siapa diri mereka, lalu mengikrarkan Syahadat secara lisan di depan Rasulullah (sebagai saksi).
Iman itu adalah sebuah kontrak/perjanjian setia (baiat) antara lo sebagai hamba dan Allah sebagai Tuhan (Bisa dicek di QS. Al-Fath: 10). Kontrak ini valid kalau lo lakuin secara sadar, dewasa, tanpa paksaan, dan siap sama konsekuensinya di kehidupan sehari-hari. Bukan otomatis aktif dari perut ibu.
Jangan Jadi NPC Spiritual
Kalau kita beragama cuma modal ikut-ikutan tren, tradisi nenek moyang, atau doktrin tanpa dicek lagi pake akal, Allah ngasih warning keras di QS. Al-A'raf: 179.
Orang yang punya otak, mata, dan telinga tapi nggak dipake buat mahami ayat Allah itu disamain kayak binatang ternak, bahkan lebih sesat. Efeknya? Hidup kita bakal jadi kayak "neraka jahanam" di dunia: cuma mikirin perut, nafsu, sikut-sikutan, hobi adu domba, dan hidup toxic tanpa arah.
Conclusion-nya: Menjadi orang beriman itu high level task. Iman itu butuh effort buat dipelajari, dipahami, diikrarin dengan sadar, baru di-aplikasiin dalam kehidupan nyata.
So, coba tanya ke diri lo sendiri sekarang: Selama ini lo beneran udah beriman karena paham ilmunya, atau jangan-jangan cuma merasa beriman via jalur warisan?
