Yuk, kita bahas satu hal yang sering dianggap kuno atau cuma teori di buku agama, tapi sebenarnya jadi akar permasalahan kenapa dunia hari ini penuh dengan ketidakadilan dan kekacauan. Kita bicara soal syirik alias kemusyrikan.
Tapi tunggu dulu, tulisan ini bukan mau bahas soal dukun, pesugihan, atau pohon keramat. Bagi orang-orang yang kritis dan logis, hal-hal kayak gitu sebenarnya cuma "kebodohan sosial-spiritual" level mikro. Ada jenis kemusyrikan yang jauh lebih masif, sistemik, dan langsung menyentuh tatanan hidup kita bernegara hari ini.
Mari kita bedah konsep ini secara rasional lewat tiga pilar hubungan antara manusia dengan Sang Pencipta.
1. Syirik Rububiyah: Ketika Hukum Manusia Menyingkirkan Hukum Tuhan
Pilar pertama adalah posisi Tuhan sebagai Rabb—artinya Sang Pencipta, Pengatur, dan Pembuat Aturan bagi alam semesta.
Sebelum menciptakan manusia, Tuhan sudah mendesain hukum-hukum-Nya (Din), baik yang tidak tertulis di alam semesta (seperti hukum fisika) maupun yang tertulis dalam Kitab Suci (Taurat, Injil, Al-Quran). Hukum-hukum ini sifatnya universal, adil, dan objektif untuk semua manusia tanpa memandang status sosial atau isi dompet.
Di mana letak syiriknya?
Ketika suatu bangsa atau sistem lebih memilih menggunakan hukum buatan manusia yang sarat kepentingan pribadi, golongan, atau warisan penjajah, lalu menapikan hukum Tuhan.
Hukum buatan manusia sering kali tajam ke bawah tapi tumpul ke atas, berpihak pada yang punya kuasa dan modal. Di sinilah terjadi Syirik Rububiyah—menyejajarkan pemikiran manusia yang penuh syahwat politik dengan otoritas hukum Tuhan yang mutlak.
Hal ini diperingatkan keras dalam Al-Quran:
- QS. Al-Maidah (5): 44, 45, 47: Menegaskan bahwa mereka yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Tuhan adalah orang-orang yang kafir, zalim, dan fasik.
2. Syirik Mulkiyah: Dari Ego Pribadi dan Kelompok Hingga Krisis Kepemimpinan
Pilar kedua adalah posisi Tuhan sebagai Malik—Raja atau Penguasa Tunggal yang sah atas alam semesta ini.
Dalam tatanan yang murni, agar hukum Tuhan bisa berjalan, dibutuhkan pemimpin yang mengabdi pada nilai-nilai tersebut. Pemimpin ideal (Khalifah) sejatinya adalah wakil yang menjalankan amanah kekuasaan demi menciptakan keadilan, kedamaian, dan kesejahteraan yang merata.
Di mana letak syiriknya?
Ketika para pemimpin dunia (presiden, raja, penguasa) bertindak absolut layaknya Firaun modern, merasa memiliki hak mutlak atas manusia, dan rakyat memuja mereka secara buta.
Saat ini, kita melihat sistem dunia terpecah-belah menjadi kelompok, partai, dan golongan yang saling mengeklaim paling benar demi kekuasaan semata. Kondisi ini disinggung dalam Al-Quran:
- QS. Ar-Rum (30): 31-32: "...dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah (musyrik), yaitu orang-orang yang memecah-belah din mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka."
Efek dari Syirik Mulkiyah (syirik kekuasaan) ini jelas: keadilan yang dijanjikan saat kampanye politik sering kali berakhir jadi janji kosong belaka.
3. Syirik Uluhiyah: Menjadikan Ego Sendiri Sebagai "Tuhan"
Pilar ketiga adalah posisi Tuhan sebagai Al-Ma'bud atau Ilah—Satu-satunya yang berhak ditaati, dicintai secara mutlak, dan dipatuhi segala perintah-Nya.
Secara bahasa, Ilah atau tuhan bisa bermakna apa saja yang kita kagumi, kita takuti, atau kita turuti keinginannya secara berlebihan.
Di mana letak syiriknya?
Ketika kita tanpa sadar menyembah ego, ambisi, tren, atau hawa nafsu sendiri di atas segalanya. Kita menjadi budak dari keinginan kita sendiri.
Al-Quran mengingatkan fenomena ini lewat sentilan yang cukup menohok:
- QS. Al-Furqan (25): 43-44: "Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya... Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya."
Ketika kita menempatkan cinta pada dunia, validasi sosial, atau ambisi pribadi di atas nilai-nilai kebenaran universal dari Tuhan, di sanalah kita terjebak dalam Syirik Uluhiyah.
Terus, Apa Action Plan Kita Sekarang?
Melihat realita bahwa sistem global saat ini sangat jauh dari ideal, apa yang harus kita lakukan? Apakah kita harus jadi pemberontak, melakukan teror, atau membuat kekacauan? Sama sekali tidak.
Tuhan tidak membebani kita di luar kapasitas kita. Menuntut perubahan sistem global dalam semalam di tengah kondisi "malam spiritual" saat ini adalah hal yang mustahil dan justru bisa merusak. Ada dua langkah taktis yang bisa kita ambil:
- Secara Aqidah/Kesadaran (Internal): Selamatkan dulu pikiran dan hati kita. Minimal, miliki kesadaran kritis (mindset) untuk membedakan mana yang benar (hak) dan mana yang manipulatif (batil). Jaga agar prinsip ketauhidan kita tetap murni di dalam qalbu. Jangan larut dalam arus ideologi yang mengagungkan ego dan materi.
- Secara Praktik/Sosial (Eksternal): Sebagai warga negara, kita tetap wajib menaati hukum positif yang berlaku demi ketertiban sosial bersama. Kita tidak perlu membuat kerusakan, namun kita juga tidak boleh kehilangan kompas moral dan spiritual kita.
Kesimpulannya: Kemusyrikan sejati bukan sekadar urusan mistis masa lalu, melainkan krisis spiritual modern di mana manusia menyingkirkan otoritas Tuhan demi ego, politik, dan materi. Jangan biarkan diri kita menjadi generasi yang tuna spiritual. Tetap kritis, tetap waras!
