Sebenarnya, apa itu “Mesias”? Ternyata Bukan Hanya Gelar

Secara etimologi, kata Mesias itu berasal dari bahasa Ibrani yang artinya "yang diurapi" alias sosok yang diutus untuk jadi juru selamat. Di zaman Perjanjian Lama, istilah ini juga digunakan untuk para raja dan imam—kayak Raja Daud atau bahkan Koresy.

Tapi, para nabi zaman dulu punya visi long-term (pengharapan eskatologis). Mereka meramalkan bakal datang satu sosok pemimpin ideal. Sifatnya gimana? Berdasarkan Kitab Yesaya 11:1-5, sosok ini digambarkan:

  • Nggak bakal nge-judge orang cuma dari first impression ("sekilas pandang").
  • Nggak gampang kemakan gosip atau omongan orang.
  • Punya empathy tinggi buat belain orang-orang lemah dan tertindas secara jujur.
  • Berdiri teguh di atas kebenaran, kayak pakai ikat pinggang yang nggak pernah lepas.

Gampangnya, dia adalah tipe pemimpin high-value yang adil banget dan juga membawa kedamaian.

1. Siapa Saja Bisa Jadi “Mesias”

Sadar atau nggak, konsep "Mesias" atau juru selamat itu sebenarnya bersifat umum. Siapa aja bisa jadi 'Mesias' buat dirinya sendiri, keluarganya, komunitas, atau bahkan negaranya.

Tapi, di sinilah filter-nya berlaku. Gimana cara bedain yang asli sama yang palsu? Jawabannya ada di pembuktian lewat tindakan (action):

In short, siapa pun bisa jadi Mesias, tapi track record perbuatanlah yang menentukan validitasnya.

2. Yesus Nggak Butuh Pengakuan, Cukup Tunjukkan Bukti

Menariknya, waktu Yesus ditanya apakah Dia Mesias yang dijanjikan, Dia nggak pernah sibuk bikin statement atau klaim sepihak. Justru orang-orang di sekitarnya (seperti Simon Petrus dalam Matius 16:15-17) yang menyadari hal itu karena melihat dampak nyata dari apa yang Yesus lakukan.

Bahkan waktu Yohanes Pembaptis mengutus muridnya buat nanya, "Engkaukah yang akan datang itu?", Yesus nggak jawab "Iya". Dia cuma bilang (Matius 11:4-5):

"Pergilah dan katakanlah... apa yang kamu dengar dan kamu lihat: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan..."

3. Membaca "Mukjizat" Pakai Kacamata Metafora (Bukan Magic!)

Banyak orang salah paham dan mikir mukjizat Yesus itu menyembuhkan penyakit fisik kayak tabib atau dukun. Padahal, kalau cuma kesembuhan fisik, kenapa ujung-ujungnya Yesus tetap ditentang dan disalib oleh penguasa Romawi? Dengan keahlian yang dimiliki Yesus, seharusnya dia dipelihara oleh penguasa Romawi.

Kalau kita bedah pakai kacamata metafora atau psikologis, "penyembuhan" yang dimaksud Yesus itu punya makna deep yang berkaitan dengan restorasi mental dan spiritual:

  • Orang Buta Jadi Melihat: Yesus bikin mata hati dan pikiran orang-orang—yang tadinya ketutup doktrin kaku dan hoaks para ahli kitab—jadi aware (celik) sama kebenaran.
  • Orang Lumpuh Bisa Berjalan: Ini metafora buat bangsa Israel yang waktu itu nggak berdaya dan krisis identitas. Yesus mengedukasi mereka biar mandiri, bangkit, dan berani speak up melawan penjajahan.
  • Orang Kusta Menjadi Tahir: Kusta fisik itu memisahkan bagian tubuh. Secara metafora, Yesus menyembuhkan "kusta mental" (pola pikir musyrik yang bikin pecah belah) dan menyatukan mereka kembali dalam prinsip Tauhid yang utuh.
  • Orang Tuli Bisa Mendengar: Mengubah masyarakat yang tadinya menutup telinga dari ajaran Taurat asli, jadi mau dengerin dan paham arah hidup yang benar.
  • Orang Mati Dibangkitkan: Ini soal mindset. Yesus membangkitkan kesadaran berpikir orang-orang yang sudah "mati secara kreatif dan kritis" akibat keterpurukan, biar bangkit jadi pribadi yang unggul.

4. Kesimpulan: The Ultimate Goal

Jadi, misi utama Yesus sebagai Mesias sebenarnya bukan show off kekuatan supranatural. "Penyembuhan" yang Dia lakukan adalah gerakan pemulihan iman total.

Dia pengen menyembuhkan mindset Bangsa Israel supaya balik lagi ke prinsip hidup yang benar, ninggalin ideologi yang merusak, dan fokus setia kepada satu-satunya Tuhan Semesta Alam. It’s all about mental and spiritual revolution!


Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama