Menurut kebanyakan orang, Islam adalah agama baru yang benar-benar beda dan terpisah dari ajaran nabi-nabi terdahulu? Banyak dari kita yang tumbuh dengan narasi kalau nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad SAW itu membawa ajaran yang "belum komplit," dan baru disempurnakan pada zaman Nabi Muhammad.
Baca juga: Islam Adalah Sistem Hidup Universal Untuk Segenap Mahluk
Well, plot twist: Ternyata Al-Qur'an justru bilang hal yang sebaliknya.
Sebenarnya, Islam itu bukan brand agama baru. Islam adalah sebuah sistem hukum (din) ciptaan Allah yang dari dulu sampai sekarang prinsipnya nggak pernah berubah. Bahkan, Nabi Muhammad SAW sendiri secara tegas tidak mengklaim sebagai pencipta ajaran baru. Beliau justru menegaskan kalau dirinya adalah pengikut setia dari sebuah jalan yang sudah ada sebelumnya: Millah Ibrahim (Jalan Hidup Nabi Ibrahim) yang hanif (lurus).
Baca juga: Kupas Tuntas "Millah Abraham" biar Nggak Gagal Paham!

Apa Kata Al-Qur'an?
Nggak usah tebak-tebak buah manggis, ini beberapa ayat Al-Qur'an yang jadi bukti kuat kalau misi Nabi Muhammad itu adalah kelanjutan dari misinya Nabi Ibrahim, bukan dalam rangka bikin sekte baru:
- QS. Al-An'am: 161 & An-Nahl: 123: Di sini Allah langsung ngasih perintah ke Nabi Muhammad buat bilang kalau beliau ditunjuki ke jalan yang lurus, yaitu Millah Ibrahim yang hanif, sekaligus penegasan bahwa Nabi Ibrahim bukanlah bagian dari orang musyrik.
- QS. An-Nisa: 125 & Ali Imran: 95: Ayat ini nge-clear-kan kalau cara beragama yang paling oke adalah dengan ikhlas berserah diri ke Allah dan mengikuti Millah Ibrahim.
- QS. Al-Hajj: 78: Ini yang seru. Di ayat ini disebut kalau nama "Muslim" itu sebenarnya sudah dikasih oleh Allah kepada orang-orang terdahulu.
Bukan cuma soal iman, urusan "aturan main" alias syariat juga sama. Di QS. Asy-Syura: 13, Allah menegaskan kalau sistem hukum yang dibawa Nabi Muhammad itu sama persis, kenapa sama persis, karena ini wasiat. Dikatakan seperti apa yang diwasiatkan kepada Nabi Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa AS. Intinya cuma satu: Tegakkan sistem hukum itu, dan jangan berpecah belah!
Baca juga: Al-Quran: Bukan Sekadar Buku Teori, Tapi "Blueprint" Hidup yang Aktual
Analogi Pokok Pohon vs Ranting yang Patah
Kalau dianalogikan, Millah Ibrahim itu adalah pokok pohon anggur utama. Nabi Muhammad adalah dahan yang tumbuh subur langsung dari pokok pohon tersebut, makanya sifat dan karakternya sama persis dengan pohon utamanya.
Nah, sedangkan kondisi "Millah Yahudi" dan "Millah Nasrani" masa kini yang diibaratkan seperti ranting yang patah dari pohon utama karena dianggap menyimpang dari tauhid yang murni.
Tapi tunggu dulu... lantas gimana dengan kondisi umat Islam zaman sekarang?
Realitas Check: > Hari ini, umat Islam justru kelihatan terjebak dalam circle kelompok dan partai masing-masing. Alih-alih menerapkan Islam sebagai satu sistem kehidupan yang utuh, aktivitasnya sering kali terjebak di rutinitas ritual semata. Gaya hidup dan sistemnya malah berkiblat ke Barat atau Timur, bukan ke Kebenaran Sejati (Millah Ibrahim). Bisa dibilang, akar masalahnya adalah ketika visi tauhidnya sudah mulai bergeser.
Baca juga: Syirik Sistemik: Puncak Krisis Spiritual
Menolak Millah Ibrahim = Red Flag
Di dalam QS. Al-Baqarah: 130, Al-Qur'an ngasih sindiran keras banget. Disebutkan kalau nggak ada yang membenci atau menolak Millah Ibrahim kecuali orang yang memperbodoh dirinya sendiri.
Jadi, kalau ada pihak, termasuk fatwa-fatwa kelembagaan saat ini, yang menuduh paham Millah Abraham sebagai aliran sesat, berarti secara tidak langsung mereka menganggap Nabi Muhammad dan para sahabatnya juga sesat dong? Kan Nabi Muhammad sendiri yang diperintahkan untuk meniru dan mengikuti jalan tersebut (QS. Al-Ahzab: 21 & QS. Ali Imran: 31).
Ingat, esensi mengikuti sunnah Rasulullah itu adalah sebuah keharusan. Jadi, mereka yang berusaha konsisten di jalan ini harusnya nggak boleh langsung dihakimi dengan sebutan sesat. Mending kita semua introspeksi diri dulu sebelum sibuk nge-judge orang lain.
Nabi Ibrahim: Bukan Yahudi, Bukan Nasrani
Biar nggak ada miskonsepsi, Al-Qur'an di QS. Al-Baqarah: 135-136 dan QS. Ali Imran: 67-68 menegaskan kalau Nabi Ibrahim itu bukan orang Yahudi dan bukan orang Nasrani. Beliau adalah seorang Muslim yang hanif (lurus dan berserah diri).
Makanya, pengikut sejati Nabi Ibrahim adalah orang-orang yang konsisten di jalannya, termasuk Nabi Muhammad SAW dan orang-orang yang beriman.
The Ultimate Goal: Saatnya Duduk Bareng
Daripada sibuk debat kusir dan bikin perpecahan, sudah saatnya umat manusia sekarang—terutama yang punya akar dari agama Abrahamik (Yahudi, Nasrani, Islam)—buat duduk bareng dan berdialog.
Yuk, kita balik lagi ke source utamanya: Millah Abraham. Dengan kembali ke akar teologi yang sama, kita bisa menyatukan frekuensi iman demi terciptanya kedamaian global dan keharmonisan alam semesta. No more drama, just pure truth.