Semua Nabi Punya Visi yang Sama

Pernah nggak sih kamu dengar asumsi kalau setiap Nabi itu bawa agama yang beda-beda? Katanya, ajaran Nabi Ibrahim beda sama Nabi Musa, terus di-update lagi pas zaman Nabi Isa, sampai akhirnya paling sempurna di zaman Nabi Muhammad. Kelihatannya logis sih, mirip kayak kita update iOS atau sistem Android di HP.

Tapi bentar dulu, riset mendalam terhadap teks suci justru menunjukkan hal yang sebaliknya. Klaim kalau agama itu berevolusi dari "nggak sempurna" ke "sempurna" justru nggak punya dasar wahyu yang kuat.

Bayangin deh: Tuhan Yang Maha Tahu masa depan, masa iya harus trial and error revisi hukum tiap kali ngutus Nabi baru? Nggak masuk akal, kan?

Faktanya, misi semua Rasul itu dari dulu sampai sekarang cuma satu: mengembalikan manusia ke fitrah-nya (tujuan awal diciptakan), yaitu jadi hamba dari satu-satunya Sang Pencipta. Di Al-Quran Surat Ash-Shaf (61) ayat 9, dijelasin kalau Rasul diutus membawa din yang benar untuk menang di atas segala sistem hidup buatan manusia yang zalim.

Kebenaran sejati itu sifatnya konstan, nggak bakal kedaluwarsa cuma karena beda zaman atau pindah lokasi. Nah, sistem kehidupan yang asli dan murni inilah yang disebut Millah Abraham (Millah Ibrahim). Jadi, gerakan Millah Abraham di Nusantara itu BUKAN bawa agama baru atau mau menodai agama lain, tapi justru mau ngajak kita back to basic ke ajaran murni para nabi.

Baca juga: Millah Ibrahim Jalan Hidup Para Nabi

Biar makin paham dan nggak FOMO, yuk kita bedah 3 istilah kuncinya lewat kamus bahasa dan sejarah!

Breakdown Istilah: Millah, Din, & Syariat

1. Millah (The Universal Blueprint)

Secara bahasa (etimologi), kata Millah berasal dari bahasa Aram (suku kuno di Jazirah Arab). Di Al-Quran, kata ini disebut sampai 15 kali, dan serunya, sering banget digandeng langsung sama nama Nabi Ibrahim (Millah Ibrahim).

Kenapa harus Nabi Ibrahim yang jadi center-nya? Ada 4 alasan kuat:

  • Beliau adalah Kekasih Allah atau Khalilullah yang jadi kakek moyang para nabi jalur Ishaq dan Ismail.
  • Dapat gelar Ulul Azmi (Nabi dengan ketabahan super).
  • Role model sejati yang totalitas tanpa batas demi Allah, bahkan rela ninggalin negaranya dan mengorbankan anaknya.
  • Beliau adalah "akar tunggang" dari semua agama samawi (Yudaisme, Kristen, Islam). Nabi Musa, Isa, dan Muhammad saw. itu ibarat generasi penerus dari misi yang sama.

Fun Fact: Di era Turki Utsmani, kata "Millah" diserap jadi Millet yang artinya seluruh agama di wilayah mereka. Malah di bahasa Turki modern dan Persia, artinya meluas jadi "bangsa" atau "negara".

2. Din (The Ultimate System)

Kata Din disebut sebanyak 95 kali di Al-Quran. Dalam bahasa Semit, artinya undang-undang atau hukum. Sedangkan dalam bahasa Arab, artinya ketaatan, ketundukan, kekuasaan, dan balasan.

Ahli tafsir terkenal kayak Abū al-A'la Maudūdi membagi makna Din jadi tiga: kekuasaan pemerintah, ketundukan total, dan hari perhitungan (yaum al-din).

Kalau kita gabungkan riset dari pakar bahasa, hubungan antara Din dan Millah itu sebenarnya sama persis. Buktinya ada di ayat-ayat ini:

  • QS. Al-An'am: 161: Di sini Allah tegas nyebut kalau Shirathal Mustaqim (jalan yang lurus) itu adalah dinan qiyaman, yaitu Millah Ibrahim yang hanif (lurus).
  • QS. An-Nisa: 125: Siapa yang din-nya paling baik? Orang yang ikhlas berserah diri (aslama) dan mengikuti Millah Ibrahim.
  • QS. Al-Hajj: 78 & QS. Yusuf: 38: Menegaskan kalau kita disuruh ikut Millah bapak kita, Ibrahim, yang sejak dulu udah menamai pengikutnya sebagai "Muslim" (orang yang berserah diri).

Kerennya lagi, dari kata Din ini lahir kata Madinah, yang artinya tempat hukum Allah diberlakukan. Kota Yatsrib diubah namanya jadi Madinah karena di sanalah Nabi Muhammad membangun pusat peradaban dunia yang taat hukum Tuhan (Al-Madinah Al-Munawwarah), sama kayak Yerusalem di zaman Nabi Musa dan Isa.

3. Syariat (The Flow of Life)

Asal kata Syariat itu seksi banget secara bahasa: jalan menuju mata air. Karena air adalah sumber kehidupan, syariat adalah aturan dari Tuhan biar manusia selamat dunia-akhirat.

Banyak orang salah paham dan mikir syariat tiap nabi itu beda-beda gara-gara salah mengartikan teks parsial. Padahal kalau kita cek Surat Asy-Syura (42) ayat 13, Allah bilang:

"Dia telah men-syariat-kan bagi kamu tentang din apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa..."

Tuh, jelas banget kan? Hukum dasar dan prinsip universalnya (keadilan, kebenaran, kemanusiaan) nggak pernah berubah dari zaman Nabi Nuh sampai Nabi Muhammad.

Kenapa Mayoritas Orang Membeda-bedakan Para Nabi?

Kalau esensinya sama, kenapa narasi yang beredar malah beda-beda? Ada 3 penyebab utamanya:

  1. Tafsir Kebencian & Klaim Ego: Adanya klaim absolut dari masing-masing kelompok/etnis yang merasa paling benar sendiri.
  2. Kemakan Teori Evolusi Agama: Pengaruh teori ala Edward Tylor yang maksa menyamakan perkembangan agama dengan teori evolusi biologi Charles Darwin (dari yang primitif ke modern). Padahal wahyu Tuhan nggak kayak gitu cara kerjanya.
  3. Skeptis Tekstual: Terpaku pada teks parsial kayak QS. Al-Ma'idah: 48 ("Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan..."). Padahal yang beda itu cuma manifestasi teknis/ritual kecilnya karena perbedaan bahasa dan geografi, tapi esensi hukum dasarnya tetap satu.

Kesimpulan

Biar gampang dipahami, Islam itu bukan sekadar nama sekte atau label etnis tertentu, melainkan sebuah attitude atau sikap hidup untuk tunduk patuh (aslama) kepada sistem hukum universal milik Tuhan (Dinullah).

Baca juga: Kupas Tuntas "Millah Abraham" biar Nggak Gagal Paham!

Jadi, Millah Abraham adalah road map atau jalan kebenaran murni yang dipakai semua Nabi demi menegaskan kembali "Kerajaan Allah" di bumi. Sebuah sistem yang membawa kedamaian, kesejahteraan, dan menjaga manusia biar tetep waras sesuai fitrahnya. Gimana, masuk akal kan?


Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama