Kupas Tuntas "Millah Abraham" biar Nggak Gagal Paham!

Pernah kepikiran nggak, kenapa tiga agama terbesar di dunia—Yudaisme (Yahudi), Kristen, dan Islam—bisa punya benang merah yang sama kuat banget? Jawabannya ada di satu figur legend yang jadi common ancestor alias bapak spiritual mereka: Nabi Ibrahim (atau dalam tradisi Ibrani disebut Abraham).

Tapi belakangan ini, ada narasi yang bilang kalau paham bernama Millah Abraham itu adalah gerakan "sinkretisme" (alias mencampuradukkan agama Yahudi, Kristen, dan Islam jadi satu sekte baru). MUI bahkan sempat nge-banned alias memfatwakan sesat paham ini.


Nah, biar kita nggak kemakan hoax atau ikutan gagal paham, mari kita breakdown sejarah, silsilah, sampai esensi sebenarnya dari Millah Abraham ini lewat kacamata sejarah dan kitab suci!

1. Profil Abraham: Dari "Abram" ke "Abraham"

Mari kita flashback ke tahun 2166 SM. Lahirlah seorang Semit bernama Abram (artinya "bapak yang terpuji"). Alkitab mencatat dia punya dua saudara: Nahor dan Haran.

Pada umur beliau menginjak 99 tahun, Tuhan mengganti namanya jadi Abraham, yang artinya "Bapak dari banyak suku dan bangsa." Singkat cerita, beliau wafat di usia 175 tahun, dan dimakamkan di Gua Makhpela di samping istri pertamanya, Sarah.

Fun Fact Soal Nama: > Kata "Ibrahim" atau "Abraham" itu punya akar kata dari bahasa Semitik kuno Babilonia atau bahasa Aram ('abara), yang artinya "menyeberang" atau "mengembara". Makanya, keturunan beliau disebut bangsa Habiru atau Ibrani (Hebrew), yang secara harfiah artinya kaum nomad yang hobi mengembara.

2. Silsilah Abraham: Versi Alkitab vs Al-Quran

Kalau kita ngomongin silsilah biologis, ada sedikit perbedaan nih antara yang dikatakan Alkitab dan Al-Quran:

  • Versi Kitab Kejadian (Alkitab): Abram adalah anak Terah, lalu ditarik ke atas sampai ke Sem bin Nuh as., sampai mentok di Nabi Adam as.
  • Versi Al-Quran: Ibrahim disebut sebagai putra dari Azar.

Sepanjang hidupnya, Ibrahim tercatat memiliki tiga istri: Sara (Sarah binti Haran), Hagar (Siti Hajar), dan Keturah (Qaturah binti Yaqtan). Dari para istri inilah lahir legacy besar yang mengubah sejarah dunia.

3. Sang "Founding Father" Monoteisme & Sahabat Tuhan

Di Alkitab maupun Al-Quran, Ibrahim itu digambarkan sebagai ultimate role model. Imannya nggak kaleng-kaleng. Beliau berhasil membuktikan kalau cintanya ke Allah jauh melampaui cintanya ke anak, keluarga, atau bangsanya sendiri (ingat kisah ujian pengorbanan anaknya?).

Sebagai reward, Allah memilihnya dan menjanjikan "Tanah Perjanjian" buat keturunannya. Makanya, beliau dijuluki "Bapak Monoteisme", "Proklamator Keadilan Ilahi", dan "Bapak para Nabi".

Bahkan, di tiga tradisi agama samawi, Ibrahim punya title yang sangat wholesome: Sahabat Tuhan (Khalilullah). Buktinya ada di circle ayat-ayat ini:

  • Alkitab (Yesaya 41:8): "Tetapi engkau, hai Israel, hamba-Ku, hai Yakub yang telah Kupilih, keturunan Abraham, sahabat-Ku itu..."
  • Alkitab (2 Tawarikh 20:7): "...dan memberikannya kepada keturunan Abraham, sahabat-Mu itu, untuk selama-lamanya?"
  • Alkitab (Yakobus 2:23): "...Lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran dan Abraham disebut: 'Sahabat Allah'."
  • Al-Quran (QS. An-Nisa [4]: 125): "...Dan Allah mengambil Ibrahim sebagai kesayangan-Nya/sahabat-Nya."

4. Isi "Kontrak Perjanjian" (Kovenan) dengan Allah

Banyak teolog bilang kalau perjanjian Allah dengan Ibrahim adalah "Perjanjian Kedua" setelah era Nabi Nuh. Tapi kalau dipikir pakai logika, kontrak atau persaksian antara Tuhan dan manusia itu sudah start sejak zaman Nabi Adam. Nggak mungkin kan Tuhan ngasih sanksi ke Adam kalau nggak ada rules atau kontrak di awal?

Inti dari kovenan Allah dengan Ibrahim adalah: Ibrahim dan keturunannya wajib menjaga perjanjian dan melakukan khitan (sunat). Imbalannya? Keturunannya lewat Ishaq dan Ismail bakal jadi bangsa yang besar. Khusus buat jalur Ishaq, mereka dijanjikan bakal mewarisi tanah Palestina. Dari sinilah seluruh sejarah Bani Israel berporos.

Tapi Tunggu Dulu, Ada Catatan Penting:

  1. Ismail Tetap Putra Sulung: Jalur Ishaq emang dapat giliran awal buat menguasai "Tanah Perjanjian" (Yerusalem). Tapi jangan lupa, Ismail adalah anak pertama yang 14 tahun lebih tua dari Ishaq. Allah juga menjanjikan Ismail bakal menurunkan bangsa yang besar. Plus, banyak nabi top yang lahir di luar jalur Bani Israel, contohnya Nabi Ayyub, Hud, Shaleh, Syuaib, dan Nabi Muhammad saw.
  2. Solidaritas Lintas Jalur: Keturunan Ismail dan Ishaq itu aslinya sering support satu sama lain. Contohnya pas Nabi Musa (Bani Israel) kabur dari kejaran Firaun ke Madyan, beliau ditolong dan dimentori oleh Nabi Syuaib/Yitro (jalur non-Israel).
  3. Bukan Soal DNA, tapi Soal Iman: Al-Quran menegaskan kalau perjanjian eksklusif dari Allah itu ketentuannya bukan berdasarkan privilege ras, DNA, atau garis keturunan biologis, melainkan garis keturunan spiritual (misi iman).

Coba cek QS. Al-Baqarah (2): 124:

"Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa perintah dan larangan, lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: 'Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam (pemimpin) bagi seluruh manusia'. Ibrahim berkata: '(Dan saya mohon juga) dari keturunanku'. Allah berfirman: 'Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang zalim'."

Artinya apa? Biarpun lu keturunan langsung Nabi Ibrahim, kalau kelakuannya zalim atau syirik, ya auto-coret dari perjanjian kepemimpinan dunia. Sebaliknya, biar bukan keturunan biologis, kalau imannya lurus dan nggak zalim, mereka bisa jadi pemimpin.

5. Misi Nabi itu Universal, Bukan Lokal!

Ada asumsi kalau nabi-nabi zaman dulu itu cuma buat kaumnya aja (nabi lokal). Padahal secara esensi, semua nabi itu punya visi yang universal.

Secara bahasa, kata "Prophet" atau "Nabi" itu berasal dari bahasa Akadia yang artinya to call (menyerukan) atau to announce (menyampaikan pesan). Jadi, tugas mereka adalah menyampaikan "berita langit" atau nubuat buat umat manusia.

Memang, pas start dakwah, para nabi mulainya dari kampung halaman sendiri dan pakai bahasa lokal biar komunikasinya nyambung. Musa mulai di Mesir, Yesus (Isa) di Yerusalem, dan Nabi Muhammad saw. di Mekah & Madinah. Tapi konten dan kitab suci yang mereka bawa (Taurat, Injil, Al-Quran) itu sebetulnya berlaku universal untuk semua manusia (Bisa dicheck di QS. Ali Imran [3]: 3-4).

6. Klarifikasi: Millah Abraham BUKAN Sinkretisme!

Sekarang masuk ke poin paling krusial: Apakah Millah Abraham itu aliran gado-gado yang mencampuradukkan agama? > Jawabannya: Jelas BUKAN. Menyebut Millah Abraham sebagai gerakan mencampuradukkan agama adalah akibat dari kedangkalan informasi sejarah. Kenapa? Karena secara historis, label "agama" yang kita kenal sekarang sering kali muncul jauh setelah nabinya wafat.

  • Nabi Musa Bukan Orang "Yahudi": Istilah agama Yudaisme/Yahudi itu muncul lama setelah Nabi Musa wafat.
  • Nabi Isa (Yesus) Bukan Pembawa Agama "Kristen": Istilah "Kristen" itu pertama kali muncul di kota Antiokhia, Turki, disematkan oleh orang lain kepada para pengikut Yesus, bukan label dari Yesus sendiri (Bisa dicek di Alkitab, Kisah Para Rasul 11:25-26).

Jadi, Ibrahim, Musa, dan Isa itu aslinya nggak menganut agama institusional seperti label geopolitik zaman sekarang. Mereka semua menganut Millah Abraham, yaitu Din al-Haqq (Jalan Kebenaran Allah), sebuah sistem hidup yang lurus, monoteis murni (muslim hanif), dan berserah diri sepenuhnya kepada Tuhan tanpa bumbu kemusyrikan.

Al-Quran mempertegas statement ini dalam QS. Ali Imran (3): 65-67:

"Hai Ahli Kitab, mengapa kamu bantah-membantah tentang hal Ibrahim, padahal Taurat dan Injil tidak diturunkan melainkan sesudah Ibrahim. Apakah kamu tidak berpikir?... Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (muslim hanif) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik."

Kalau menuduh Millah Abraham itu sinkretisme, berarti secara nggak langsung menuduh Nabi Muhammad saw. melakukan sinkretisme dong? Padahal Nabi Muhammad sendiri dengan tegas memproklamirkan diri sebagai pengikut dari Millah Abraham yang lurus ini.

Kesimpulan

Generasi Millah Abraham itu menghormati dan mengimani semua Kitab-Kitab Allah (Taurat, Injil, Al-Quran) dan semua Rasul tanpa membeda-bedakan. Kalau ada part di Alkitab (Perjanjian Lama/Baru) yang dirasa ada pergeseran makna, tolok ukurnya tinggal divalidasi pakai Al-Quran sebagai muhaimin (penguji).

Kita nggak memusuhi kaum Yahudi atau Kristen. Justru, esensi dari Millah Abraham adalah open invitation alias ajakan buat seluruh "Anak Cucu Abraham" (baik jalur Ishaq maupun Ismail) untuk balik lagi ke source code yang asli: menegakkan sistem dan hukum Allah yang hakiki di bumi.

Ajakan cool ini bahkan diabadikan di QS. Al-Maidah (5): 68:

Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikit pun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil, dan Al-Quran yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu..."

The Bottom Line: Millah Abraham bukan sekte gado-gado, bukan pula membawa misi agama kelompok tertentu. Ini adalah gerakan spiritual buat ngingetin umat manusia agar kembali ke jalur tauhid yang murni, adil, dan universal, sesuai dengan track record asli para nabi terdahulu.


Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama